Jum'at, 23 Oktober 2026
PADANG LAWAS | Mata - Publik.net_
Di Desa Janji Lobi Lima, Kabupaten Padang Lawas, Jumat (23/10/2026) terasa seperti hari-hari biasanya hening, tenang, dan diselimuti kesederhanaan. Namun, ketika jarum jam menunjuk pukul 16.30 WIB, senja di desa yang jauh dari hiruk pikuk kota itu perlahan berubah menjadi hangat dan penuh haru.
Di antara jalanan setapak yang berdebu, tampak derap langkah beberapa pria kekar berseragam cokelat. Mereka bukan sedang melakukan penggerebekan, bukan pula membawa sirine ketegangan atau borgol untuk menangkap pelaku kejahatan. Hari itu, rombongan Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Padang Lawas datang menyusuri pelosok desa dengan senyum ramah dan dekapan paket sembako di tangan.
Pemandangan yang sangat berbeda dari keseharian mereka yang biasanya identik dengan kasus pembunuhan, pencurian, dan pengungkapan kejahatan berat.
Di garis depan, Kasat Reskrim AKP Irwansah Sitorus berjalan beriringan dengan KBO Ipda Arpan Harahap dan Kanit Pidum Ipda Taufik Akbar Turut mendampingi dengan cekatan dua personel muda yang penuh semangat, Briptu Martin Nenggolan dan Bripda Muarif. Langkah kaki mereka yang mantap mengarah ke deretan gubuk gubuk bersahaja tempat di mana denyut kehidupan warga kurang mampu berdenyut pelan, jauh dari perhatian.
Tujuan mereka terhenti di depan sebuah hunian kayu yang bersahaja, dindingnya sudah lapuk dimakan usia, atapnya pun mulai bocor di sana-sini. Di sana, tinggal Ahmad Copot Siregar. Waktu telah mengukir garis-garis keriput yang dalam di wajah pria berusia 70 tahun tersebut. Garis hidup yang merekam panjangnya perjuangan mengarungi masa tua dalam keterbatasan dan kesendirian.
Ketika pintu lapuk itu diketuk dan deretan wajah berseragam kepolisian berdiri menyapa dengan salam, raut terkejut dan sedikit cemas terpancar dari mata sang kakek. Maklum, bagi warga pelosok, didatangi polisi seringkali diidentikkan dengan masalah.
Namun, rasa cemas itu sirna seketika saat uluran tangan penuh kehangatan dari AKP Irwansah Sitorus menyodorkan bantuan berupa paket sembako untuk dapurnya yang mungkin beberapa hari terakhir berjuang untuk tetap ngebul.
Air muka Kakek Ahmad seketika luluh. Matanya yang sudah sayu berkaca-kaca, menatap paket sembako berisi beras, minyak, gula, dan kebutuhan pokok lainnya di tangannya seolah melihat secercah harapan yang turun dari langit senja Janji Lobi Lima.
"Alhamdulillah ya Allah... Terima kasih banyak kepada Bapak-bapak Polisi yang telah peduli dengan keadaan kami orang susah ini," bisik Kakek Ahmad dengan suara bergetar, tangan keriputnya memegang erat paket tersebut, mengekspresikan rasa syukur yang mendalam atas perhatian yang jarang ia kecap.
Bagi Kakek Ahmad dan beberapa warga penerima lainnya yang juga disambangi hari itu, kehadiran para personel polisi sore itu bukan sekadar urusan logistik atau bantuan bahan pangan senilai ratusan ribu rupiah. Lebih dari itu, ia adalah bentuk pengakuan bahwa di tengah sunyinya gubuk mereka, di tengah keterbatasan mereka, masih ada hati yang peduli, masih ada institusi negara yang mau mendengar dan hadir.
Jumat Berkah: Polisi Adalah Ladang Ibadah
Aksi sosial bertajuk Jumat Berkah ini bukanlah agenda seremonial belaka yang datang sekali lalu hilang untuk pencitraan. Bagi AKP Irwansah Sitorus dan jajarannya, mengetuk pintu-pintu warga kurang mampu telah menjadi rutinitas yang merawat empati dan mengasah kepekaan sosial anggota reskrim.
Di balik senyum warga yang merekah sore itu, AKP Irwansah menceritakan bahwa langkah mulia ini merupakan arahan langsung dan atensi khusus dari
Kapolres Padang Lawas, AKBP Dodik Yuliyanto, S.I.K.
Sebuah upaya nyata untuk mendekatkan hukum dan kemanusiaan dalam satu nafas pengabdian, bahwa polisi tidak hanya tajam dalam penegakan hukum, tetapi juga lembut dalam kemanusiaan.
Lebih jauh, gerakan berbagi ini menjadi napas kehidupan dan implementasi nyata dari jargon
Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto
tentang "Polisi Bersama Masyarakat", serta mengejawantahkan pesan mendalam dari
Kapolda Sumut Irjen Pol Sonny Irawan
bahwa "Polisi adalah Profesi Ladang Ibadah".
"Semoga apa yang telah diperbuat dan dibagikan untuk masyarakat ini bisa membawa manfaat nyata serta menjadi berkah bagi kita semua. Kami dari Satreskrim tidak hanya ingin hadir saat ada kejahatan, tapi kami juga ingin hadir saat masyarakat membutuhkan uluran tangan," tutur AKP Irwansah tulus di sela-sela kegiatannya membagikan sembako.
Ketika langit Lubuk Barumun perlahan menyerap warna remang malam dan adzan maghrib mulai berkumandang dari surau kecil desa, rombongan Satreskrim Polres Padang Lawas berpamitan. Mereka meninggalkan Desa Janji Lobi Lima bukan hanya dengan tangan yang telah kosong dari beban paket bantuan, tetapi dengan hati yang penuh oleh doa-doa tulus dari rakyat kecil yang mereka bantu.
Di tempat ini, sore itu, seragam cokelat kepolisian tidak lagi identik dengan ketegangan atau penegakan hukum yang kaku dan menakutkan, melainkan menjadi lambang kehangatan, pengayoman, dan kasih sayang sesama manusia. Sebuah potret Polri Presisi yang humanis di Bumi Ber Cahaya Padang Lawas. ( 008. Subandi )











