PESAWARAN — Pembangunan talud tersier di Desa Paguyuban, Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran, menjadi sorotan. Proyek yang disebut telah berjalan lebih dari satu bulan itu diduga menghadapi persoalan kualitas material. Selain itu, papan informasi kegiatan disebut tidak pernah terpasang sejak awal pengerjaan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kualitas pekerjaan, transparansi pelaksanaan, serta pengawasan dari instansi terkait. Terlebih, talud tersebut diperuntukkan sebagai pembatas lahan persawahan sekaligus penahan air yang memiliki peran penting bagi aktivitas pertanian, Desa Paguyuban, Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran — Jumat, 16 Oktober 2026.
Berdasarkan dokumentasi di lokasi, sejumlah material beton pracetak terlihat pecah dan hancur. Kondisi tersebut menimbulkan dugaan bahwa material atau proses penanganannya perlu diperiksa lebih lanjut. Namun, kepastian mengenai mutu beton tetap membutuhkan pemeriksaan teknis berdasarkan spesifikasi pekerjaan.
Material Diduga Rapuh, Pekerja Ungkap Proses Pencetakan Lambat
Salah seorang pekerja bernama Edi menyebutkan bahwa pengerjaan telah berlangsung lebih dari satu bulan. Menurut keterangannya, lambatnya proses pencetakan material menjadi salah satu penyebab pekerjaan belum selesai.
Edi menjelaskan, upah pemasangan talud dihitung Rp18.000 per meter, pencetakan beton Rp4.000 per buah, dan pekerjaan melangsir material Rp3.000 per buah.
Sementara itu, pekerja lainnya menyampaikan bahwa tenaga kerja berjumlah enam orang dengan sistem pembayaran harian. Ia juga mengeluhkan material beton yang dinilai mudah pecah karena diduga diangkat ketika kondisinya masih gembur dan belum cukup kering.
Perbedaan keterangan mengenai jumlah pekerja dan sistem pembayaran masih perlu diklarifikasi. Demikian pula dugaan penyebab kerusakan material yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Lebih dari Sebulan Bekerja, Papan Informasi Tak Terlihat
Persoalan yang tak kalah penting adalah tidak adanya papan informasi kegiatan di lokasi. Menurut Edi, sejak pekerjaan dimulai, papan informasi tidak pernah terpasang.
Akibatnya, masyarakat belum dapat mengetahui secara langsung nama program, sumber pendanaan, nilai anggaran, volume pekerjaan, spesifikasi teknis, maupun pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan proyek.
Kondisi ini patut mendapat penjelasan, terutama apabila kegiatan tersebut menggunakan dana bantuan pemerintah yang memiliki ketentuan administrasi dan transparansi tertentu.
Publik perlu memperoleh kejelasan mengenai kegiatan pembangunan di lingkungannya. Namun, tidak adanya papan informasi saja belum cukup untuk menyimpulkan adanya penyimpangan.
Pemborong Sekaligus Ketua Gapoktan Dikonfirmasi melalui WhatsApp, Belum Ada Jawaban
Dalam upaya memperoleh keterangan berimbang, awak media telah menghubungi Pur, yang disebut sebagai pemborong pekerjaan tersebut, melalui pesan WhatsApp.
Namun, hingga berita ini disusun, konfirmasi tersebut belum mendapatkan tanggapan.
Belum adanya jawaban membuat sejumlah pertanyaan mengenai pelaksanaan pekerjaan, kualitas material, sumber anggaran, serta alasan tidak terpasangnya papan informasi masih belum memperoleh penjelasan dari pihak yang disebut bertanggung jawab.
Awak media tetap membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi Pur maupun pengurus Gapoktan agar persoalan ini dapat diberitakan secara berimbang.
Dinas Terkait Diminta Turun Langsung, Jangan Abaikan Kondisi Lapangan
Atas kondisi tersebut, dinas atau instansi terkait di Kabupaten Pesawaran diminta turun langsung ke lokasi untuk memeriksa pelaksanaan pembangunan talud tersebut.
Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya, mulai dari kualitas dan spesifikasi material beton, proses pengerjaan, progres pembangunan, hingga kejelasan sumber pendanaan dan administrasi kegiatan.
Jika ditemukan ketidaksesuaian, pihak berwenang diharapkan menindaklanjutinya sesuai ketentuan yang berlaku.
Pembangunan infrastruktur pertanian seharusnya mengutamakan kualitas, transparansi, dan manfaat bagi petani. Karena itu, dugaan persoalan pada material serta tidak adanya papan informasi perlu dijawab melalui pemeriksaan lapangan dan penjelasan terbuka dari pihak terkait.
Hingga kini, kejelasan mengenai sumber anggaran, identitas Gapoktan, spesifikasi pekerjaan, dan penyebab material beton pecah masih menunggu konfirmasi lebih lanjut.
Andi W






