Asmat, mat-publik.net—
Di tengah kehidupan masyarakat Asmat yang sejak dahulu sangat dekat dengan sungai, rawa, dan hutan, perahu lesung bukan sekadar alat transportasi. Perahu menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, digunakan untuk bepergian, mencari bahan makanan, berburu, menangkap ikan, mengangkut hasil kebun atau sagu, hingga menghubungkan satu kampung dengan kampung lainnya.
Di Kampung Sawa, Distrik Sawa Erma, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, tradisi membuat perahu tersebut masih terus diwariskan. Salah satu orang yang hingga kini menjaga keterampilan itu adalah Frans Demisir, seorang pembuat perahu tradisional yang memperoleh pengetahuan tersebut sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Frans mengaku mulai belajar membuat perahu ketika duduk di kelas IV dan V SD. Pengetahuan itu tidak diperolehnya dari pendidikan formal, melainkan diwariskan melalui keluarga. Ia belajar dari kedua pamannya, Salvator Jiwiju dan Ifo Jomor, yang mengajarinya mengenal kayu, menggunakan alat, hingga membentuk batang pohon menjadi sebuah perahu yang dapat digunakan.
Bagi Frans, keterampilan tersebut bukan sekadar kemampuan membuat sebuah benda. Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang alam, ketelitian, kesabaran, serta warisan leluhur yang perlu dijaga agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Mengenal Kayu dari Pengetahuan Lokal
Dalam pengetahuan lokal yang disampaikan Frans, terdapat sejumlah jenis pohon yang dapat dimanfaatkan untuk membuat perahu. Di antaranya ci, yang dikenal sebagai kayu perahu; jetne, yaitu pohon ketapang; jere, kayu paniki; serta jurasar, sejenis kayu yang menurut pengetahuan setempat memiliki kemiripan dengan paniki.
Namun, nama-nama tersebut bukan berarti seluruh jenis kayu yang digunakan masyarakat Asmat untuk membuat perahu. Pengetahuan mengenai jenis pohon dapat berbeda antara satu komunitas dengan komunitas lainnya.
Sejumlah penelitian dan dokumentasi mengenai budaya Asmat juga mencatat bahwa masyarakat memiliki pengetahuan khusus dalam memilih kayu untuk membuat ci atau perahu.
Kayu yang baik umumnya dipilih berdasarkan sifatnya, antara lain ringan, mudah dibentuk, cukup kuat dan tahan digunakan. Dalam sejumlah dokumentasi budaya Asmat, jenis ci juga disebut sebagai salah satu kayu yang sangat baik untuk bahan perahu karena relatif ringan tetapi tetap kuat.
Dalam praktiknya, Frans sendiri lebih memilih menggunakan ci atau kayu perahu sebagai bahan utama untuk membuat perahuny.
Pengetahuan mengenai kayu inilah yang menunjukkan bahwa proses membuat perahu sebenarnya telah dimulai jauh sebelum batang pohon dipahat. Seorang pembuat perahu harus mampu mengenali lingkungan dan memahami karakter kayu yang tersedia di alam.
Dari Batang Pohon Menjadi Perahu
Pembuatan perahu tradisional membutuhkan ketelitian dan tenaga. Batang pohon yang telah dipilih kemudian diolah secara bertahap hingga bagian dalamnya dapat menjadi ruang perahu.
Secara tradisional, masyarakat Asmat menggunakan berbagai alat untuk mengolah kayu. Dalam perkembangan sejarahnya, alat-alat yang digunakan antara lain kapak batu, alat dari tulang atau cangkang, kemudian berkembang menggunakan kapak besi, pisau dan pahat.
Batang kayu dibentuk bagian demi bagian. Bagian luar dirapikan, sementara bagian dalam dikosongkan hingga terbentuk badan perahu. Ujung perahu dibuat lebih runcing agar bentuknya sesuai dengan kebutuhan ketika digunakan di sungai maupun perairan.
Tahapan tersebut membutuhkan keahlian karena ketebalan kayu harus diperhitungkan. Terlalu tipis dapat mengurangi kekuatan, sedangkan terlalu tebal membuat perahu menjadi berat.
Menurut Frans, lama pengerjaan sebuah perahu tidak selalu sama. Perahu yang dikerjakan dengan tekun dapat diselesaikan sekitar satu setengah minggu, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu dua sampai tiga minggu. Lama pengerjaan sangat bergantung pada ukuran perahu, tingkat kesulitan, serta waktu dan tenaga yang dapat dicurahkan oleh pembuatnya.
“Kalau rajin dikerjakan, lebih cepat selesai. Tetapi kalau banyak hambatan atau pekerjaan lain, waktunya bisa lebih lama,” demikian gambaran Frans mengenai proses pengerjaannya.
Bagian Bawah Dibakar
Salah satu tahapan menarik dalam pembuatan perahu tradisional Asmat adalah pembakaran bagian bawah perahu.
Menurut Frans, setelah bentuk perahu selesai dan bagian-bagiannya dirapikan, perahu diberi lapisan warna putih. Setelah itu bagian bawah perahu dibakar. Dalam praktik yang dilakukan Frans, pembakaran tersebut membantu membuat bagian bawah menjadi lebih halus atau licin dan mendukung perahu ketika digunakan di atas air.
Teknik pembakaran bagian bawah perahu juga tercatat dalam berbagai dokumentasi mengenai pembuatan perahu Asmat. Pembakaran dilakukan sebagai bagian dari pengolahan badan perahu dan dalam beberapa sumber disebut membantu membuat perahu lebih ringan serta lebih mudah bergerak di air.
Tahap ini menunjukkan bahwa pembuatan perahu tradisional tidak hanya mengandalkan tenaga manusia, tetapi juga memanfaatkan api dan pengetahuan empiris yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Merah dan Putih yang Menghiasi Perahu
Setelah proses pembentukan dan pengolahan kayu selesai, perahu kemudian diberi warna.
Frans menjelaskan bahwa dalam proses yang ia lakukan, perahu terlebih dahulu diberi warna putih, kemudian setelah proses pembakaran bagian bawah selesai, perahu dihiasi dengan warna merah dan putih.
Dalam budaya seni Asmat, warna memiliki tempat penting. Dokumentasi Museum Asmat mencatat tiga warna tradisional yang banyak digunakan dalam seni Asmat, yakni merah, putih, dan hitam. Bahan pewarna tradisional diperoleh dari alam, antara lain warna putih dari hasil pembakaran cangkang atau kulit kerang yang kemudian dihaluskan, warna merah dari tanah atau tanah liat yang dibakar, sementara warna hitam dapat berasal dari arang.
Karena praktik dan bahan dapat berbeda menurut wilayah maupun komunitas, penggunaan warna pada perahu sebaiknya dipahami dalam konteks pengetahuan masyarakat yang membuatnya.
Bagi masyarakat Asmat, perahu bukan hanya benda yang memiliki fungsi praktis. Pada sejumlah kelompok, perahu juga dapat dihiasi dengan ukiran dan simbol-simbol yang memiliki hubungan dengan identitas, leluhur, kehidupan sosial, maupun kepercayaan masyarakat.
“Tanpa Perahu, Kehidupan Menjadi Sulit”
Kondisi geografis Asmat menjadikan perahu memiliki posisi yang sangat penting. Wilayah yang terdiri atas sungai, rawa, hutan dan kawasan pesisir membuat jalur air menjadi salah satu sarana utama mobilitas masyarakat.
Berbagai dokumentasi museum dan penelitian tentang Asmat menggambarkan bahwa perahu digunakan untuk perjalanan sehari-hari, mencari makanan, menangkap ikan, berburu, mengunjungi keluarga, serta menghubungkan komunitas yang dipisahkan oleh sungai.
Dalam konteks tersebut, kemampuan membuat perahu merupakan bagian dari pengetahuan hidup masyarakat. Sebuah perahu memungkinkan seseorang bergerak dari satu tempat ke tempat lain, membawa hasil alam, sekaligus menjaga hubungan sosial antarkampung.
Karena itulah keterampilan seperti yang dimiliki Frans Demisir memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar keterampilan pertukangan. Ia merupakan bagian dari pengetahuan tradisional yang tumbuh dari hubungan masyarakat dengan alam sekitarnya.
Warisan yang Perlu Diteruskan
Frans mendapatkan keterampilan membuat perahu dari keluarganya ketika masih kecil. Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana pengetahuan tradisional Asmat dapat diwariskan secara langsung dari generasi tua kepada generasi muda.
Namun, di tengah perubahan zaman, proses regenerasi menjadi tantangan tersendiri. Anak-anak muda semakin memiliki banyak pilihan pendidikan dan pekerjaan. Jika pengetahuan tradisional tidak lagi diajarkan dan dipraktikkan, bukan tidak mungkin keterampilan yang selama ratusan tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tersebut perlahan berkurang.
Karena itu, keterampilan membuat perahu perlu dilihat sebagai bagian dari kekayaan budaya yang patut didokumentasikan, diajarkan, dan dikembangkan tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.
Kisah Frans Demisir menjadi salah satu contoh bahwa warisan budaya tidak selalu tersimpan di museum. Ia juga hidup di tangan orang-orang yang masih mau belajar, bekerja, dan meneruskan keterampilan yang diwariskan oleh orang tua dan keluarga.
Dari sebatang kayu yang diambil dari hutan, lahirlah sebuah perahu. Dari tangan seorang pembuat perahu, lahir pula sebuah pengetahuan. Dan dari pengetahuan yang diwariskan itu, identitas budaya Asmat terus bergerak mengikuti arus zaman.
Byline: E.P






