Menjelang pemilu 2029, di tengah derasnya arus informasi politik di media sosial, pemilih pemula tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi.
Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang dapat dipercaya dengan informasi yang berpotensi menyesatkan.
Hal tersebut menjadi perhatian mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) melalui kegiatan Pekan Literasi AI Pemilu yang berlangsung di SMKN 4 Kendari, Jumat, 18 September 2026.
Kegiatan yang diikuti oleh 30 siswa tersebut mengusung tema “Stop Sebar Sebelum Cek” dan menjadi ruang edukasi bagi pemilih pemula untuk memahami bagaimana informasi politik diproduksi, disampaikan, dan diterima di ruang digital, terutama ketika teknologi Artificial Intelligence (AI) semakin mudah digunakan untuk menghasilkan maupun memanipulasi konten.
Dalam kegiatan ini, siswa tidak hanya diberikan pemahaman mengenai AI dan pemilu, tetapi juga dibekali langkah praktis yang dapat digunakan ketika menemukan informasi politik di media sosial.
Salah satu bekal utama yang diperkenalkan kepada peserta adalah rumus S-C-B-V-B: Stop, Cek, Bandingkan, Verifikasi, Bagikan.
Melalui rumus tersebut, siswa diajak untuk menghentikan kebiasaan langsung membagikan informasi, kemudian mengecek sumber, membandingkannya dengan informasi lain, melakukan verifikasi, dan baru membagikannya apabila informasi tersebut telah dipastikan kebenarannya.
Dewi Sri Maharani menjelaskan bahwa informasi yang diterima secara mentah tidak seharusnya langsung dipercaya maupun disebarluaskan.
Siswa diajak membangun kebiasaan untuk berhenti sejenak sebelum membagikan informasi dan memastikan kebenarannya terlebih dahulu.
Selanjutnya, Fifi April Liani membekali siswa dengan panduan investigasi digital untuk menghadapi kemungkinan manipulasi informasi menggunakan AI.
Siswa diajak mengajukan sejumlah pertanyaan sebelum mempercayai sebuah informasi, seperti siapa sumbernya, kapan informasi dibuat, dari mana asalnya, apa konteksnya, apakah foto atau video sesuai dengan fakta, serta apakah kutipan yang digunakan benar.
Bekal tersebut menjadi penting karena perkembangan AI memungkinkan sebuah konten digital tampil seolah-olah nyata. Fitda Warti kemudian memperkenalkan kepada peserta mengenai rekayasa gambar menggunakan AI.
Siswa diajak mengenali potensi manipulasi visual yang dapat membuat gambar terlihat seperti dokumentasi sebenarnya, khususnya ketika konten tersebut berkaitan dengan isu politik dan pemilu.
Output dari kegiatan ini tidak berhenti pada pemahaman mengenai AI dan pemilu. 30 siswa yang mengikuti kegiatan dibekali keterampilan sederhana untuk menghadapi informasi digital secara lebih kritis, terutama informasi politik yang mereka temui di media sosial.
Siswa mendapatkan panduan “Stop, Cek, Bandingkan, Verifikasi, Bagikan” sebagai langkah yang dapat digunakan setiap kali menerima informasi yang belum diketahui kebenarannya.
Mereka juga diperkenalkan pada cara memeriksa sumber, waktu dan konteks informasi, membandingkan informasi dengan sumber lain, hingga mengenali kemungkinan manipulasi pada foto dan video menggunakan AI.
Dengan bekal tersebut, siswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna media sosial yang aktif, tetapi juga mampu menjadi pemilih pemula yang kritis dan bertanggung jawab dalam menerima serta menyebarkan informasi politik.
Melalui Pekan Literasi AI Pemilu, mahasiswa Ilmu Komunikasi UHO turut mengambil peran dalam memberikan edukasi kepada generasi muda agar mampu menghadapi perkembangan teknologi tanpa mudah terbawa arus informasi digital.
Pesan yang ingin ditanamkan dalam kegiatan tersebut sederhana: “Berhenti sebelum menyebarkan, memeriksa sebelum mempercayai, dan memastikan sebelum membagikan.”







