Asmat, mata-publik.net-
Dari sebuah kampung di Distrik Sawa Erma, Kabupaten Asmat, lahir seorang pengukir yang terus menjaga warisan seni dan budaya leluhurnya. Urbanus Faiku/Berwir, pengukir asal Kampung Er, Distrik Sawa Erma, telah menekuni seni ukir sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Perjalanan panjangnya dimulai ketika Urbanus masih duduk di kelas V SD. Saat itu, ia pertama kali belajar mengukir dari kakaknya sendiri, Alm. Bapak Bruno Juur.
Dari tangan sang kakak, Urbanus mengenal dasar-dasar seni ukir. Keterampilan yang awalnya dipelajari sejak usia muda tersebut kemudian terus diasah hingga membawanya meraih berbagai prestasi dalam ajang seni dan budaya Asmat.
Menariknya, perjalanan Urbanus masih terus berlanjut. Beberapa minggu terakhir, karya ukiran terbarunya kembali lolos seleksi untuk mengikuti pameran Pesta Budaya Asmat 2026.
Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa setelah bertahun-tahun berkarya, Urbanus tetap konsisten mempertahankan kemampuan sekaligus mengembangkan seni ukir yang menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Asmat.
Bakat yang Terlihat Sejak SMP
Kemampuan Urbanus sudah terlihat sejak usia muda. Ketika duduk di kelas I SMP, karya ukirannya berhasil lolos seleksi untuk mengikuti pameran dalam Pesta Budaya Asmat.
Karya tersebut bahkan berhasil terjual melalui lelang dengan harga sekitar Rp800 ribu. Pengalaman tersebut menjadi salah satu motivasi penting bagi Urbanus untuk semakin serius menekuni dunia seni ukir.
Terus Mengasah Kemampuan
Dalam perjalanan mengembangkan kemampuan, Urbanus juga mengikuti berbagai kegiatan pembinaan dan pelatihan.
Ia telah mengikuti dua kali kegiatan pembinaan sanggar dan pelatihan souvenir, yakni di Distrik Atsj serta di Gedung Ja Asamanam Apacamar, Agats.
Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses Urbanus dalam meningkatkan keterampilan dan menghasilkan karya yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi.
Prestasi demi Prestasi
Pada Pesta Budaya Asmat 2021, Urbanus berhasil meraih Juara Harapan I.
Kemudian pada 2022, karya ukirannya yang mengambil inspirasi dari Tugu Tangan yang berada di Agats berhasil terjual dengan harga mencapai Rp21 juta dalam kegiatan Pesta Budaya Asmat.
Puncak prestasinya terjadi pada Pesta Budaya Asmat 2023. Urbanus berhasil meraih Juara I Umum melalui karya ukiran berbentuk laba-laba.
Kini pada 2026, ia kembali menunjukkan konsistensinya. Karya ukiran terbarunya berhasil lolos seleksi untuk dipamerkan dalam Pesta Budaya Asmat 2026.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa prestasi bukanlah akhir bagi Urbanus. Justru setiap pencapaian menjadi dorongan untuk terus berkarya.
Harapan untuk Generasi Muda dan Pemerintah
Di balik perjalanan panjangnya sebagai seorang pengukir, Urbanus juga menyimpan harapan besar terhadap keberlangsungan seni ukir Asmat di masa depan.
Ia berharap generasi muda Asmat tetap mencintai, mempelajari dan mewarisi seni ukir yang telah diwariskan para leluhur. Menurutnya, kemajuan zaman tidak seharusnya membuat generasi muda meninggalkan budaya sendiri.
Bagi Urbanus, seni ukir bulan hanya keterampilan untuk menghasilkan karya, tetapi juga bagian dari identitas, sejarah dan jati diri masyarakat Asmat yang harus terus dijaga.
Ia juga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian yang lebih besar melalui program-program yang benar-benar memberikan dampak bagi para pengukir.
Salah satunya adalah pengadaan alat-alat mengukir yang baik dan berkualitas, sehingga para pengukir dapat bekerja dengan lebih efektif serta meningkatkan kualitas karya mereka.
Selain itu, Urbanus berharap adanya sarana atau wadah pemasaran dan pengembangan ekonomi kreatif bagi para pengukir. Dengan adanya ruang yang memadai, karya-karya ukiran tidak hanya dipamerkan pada saat pesta budaya, tetapi juga dapat dipasarkan secara berkelanjutan.
Menurutnya, pemerintah dapat membantu membuka akses pasar yang lebih luas, menyediakan ruang pamer dan pusat kerajinan, serta mendorong promosi karya ukir Asmat agar semakin dikenal di luar daerah.
Dengan demikian, seni ukir tidak hanya tetap terjaga sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber penghasilan dan kekuatan ekonomi bagi para pengukir serta keluarga mereka.
Harapan tersebut bukan semata-mata untuk dirinya sendiri. Urbanus melihat masih banyak pengukir muda Asmat yang memiliki bakat dan potensi besar, namun membutuhkan dukungan, ruang dan kesempatan untuk berkembang.
Dari Kampung Er Menjaga Warisan Leluhur
Kisah Urbanus Faiku/Berwir merupakan gambaran tentang bagaimana sebuah keterampilan yang diwariskan dalam keluarga dapat terus hidup dan berkembang.
Dari Kampung Er, Distrik Sawa Erma, ia memulai perjalanan sebagai seorang anak yang belajar mengukir dari kakaknya, Alm. Bapak Bruno Juur.
Kini, setelah melewati perjalanan panjang, berbagai pelatihan dan sejumlah prestasi, Urbanus kembali membawa karya terbarunya menuju panggung Pesta Budaya Asmat 2026.
Ia membuktikan bahwa seorang seniman tidak hanya mengejar penghargaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya dan membuka jalan bagi generasi berikutnya.
Tangannya memahat kayu, tetapi sesungguhnya ia sedang mengukir cerita tentang kampung, leluhur dan identitas budaya Asmat untuk generasi yang akan datang.
E.P






